Tangerang, 6 September 2026 – Antrean panjang penumpang terjadi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah operasional penerbangan dihentikan sementara akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. Penumpang yang penerbangannya dibatalkan maupun ditunda memadati sejumlah konter maskapai untuk mengajukan penjadwalan ulang atau reschedule. Kondisi paling terlihat di Terminal 3, dengan antrean di sekitar konter check-in F memanjang hingga ke bagian ujung terminal. Pada Minggu sekitar pukul 12.20 WIB, panjang antrean diperkirakan mencapai sekitar 60 meter. Sejumlah penumpang membawa barang bawaan dan menunggu giliran mendapatkan pelayanan dari pihak maskapai. Situasi tersebut terjadi setelah banyak penerbangan tidak dapat diberangkatkan sesuai jadwal.
Layar informasi keberangkatan di Terminal 3 juga memperlihatkan banyak penerbangan berstatus dibatalkan. Kondisi itu membuat penumpang terus memeriksa jadwal sembari mencari informasi mengenai kemungkinan keberangkatan berikutnya. Sebagian memilih tetap berada di terminal sambil menunggu kepastian, sedangkan lainnya langsung mendatangi konter maskapai untuk mengubah jadwal perjalanan. Antrean untuk proses refund dan reschedule juga terjadi di terminal lain seiring luasnya dampak penghentian operasional. Sejumlah penumpang bahkan harus menunggu selama beberapa jam karena tingginya jumlah orang yang membutuhkan pelayanan. Pihak bandara dan maskapai berupaya menangani perubahan jadwal secara bertahap.
Salah satu penumpang yang terdampak adalah Hadad, 55 tahun, yang berencana pulang menuju Ternate, Maluku Utara. Penerbangannya semula dijadwalkan berangkat sekitar pukul 02.00 WIB pada Minggu dini hari. Jadwal tersebut kemudian mengalami penundaan hingga sekitar pukul 06.00 WIB sebelum akhirnya kembali mengalami perubahan dan dibatalkan. Setelah mendapatkan kepastian mengenai pembatalan, Hadad mengambil kembali bagasi yang sebelumnya telah diserahkan ketika melakukan proses check-in. Ia kemudian menuju konter untuk mengajukan penjadwalan ulang penerbangan. Kondisi serupa dialami banyak penumpang lain yang telah berada di bandara sejak dini hari.
Penumpukan penumpang tidak hanya terjadi di Terminal 3 karena dampak gangguan penerbangan juga terlihat di Terminal 1 dan Terminal 2. Calon penumpang memenuhi area check-in untuk memperoleh informasi mengenai pembatalan, perubahan jadwal, maupun pengembalian dana tiket. Sebagian penumpang memilih duduk di ruang tunggu hingga area lantai terminal sambil menanti perkembangan operasional bandara. Penumpang dengan perjalanan lanjutan juga harus menyesuaikan kembali rencana mereka karena jadwal penerbangan berubah. Kondisi tersebut membuat pelayanan reschedule menjadi salah satu aktivitas paling padat sepanjang Minggu. Maskapai diminta memberikan informasi secara berkala agar penumpang mengetahui pilihan perjalanan yang tersedia.
Gangguan operasional bermula setelah abu vulkanik Anak Krakatau terdeteksi memengaruhi wilayah udara di sekitar Bandara Soekarno-Hatta. Operasional penerbangan sebelumnya dihentikan dalam beberapa tahap dan sempat dijadwalkan kembali dibuka pada pukul 09.30 WIB. Penutupan kemudian diperpanjang hingga pukul 13.30 WIB setelah pemantauan menunjukkan kondisi belum memungkinkan penerbangan berjalan normal. Dalam perkembangan berikutnya, penghentian operasional kembali diperpanjang hingga pukul 17.30 WIB. Keputusan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan penerbangan di tengah keberadaan abu vulkanik. Kondisi terus dievaluasi berdasarkan pemantauan ruang udara dan perkembangan aktivitas Anak Krakatau.
Abu vulkanik merupakan ancaman serius bagi penerbangan karena partikel halusnya dapat mengganggu mesin pesawat, sistem navigasi, serta jarak pandang. Material tersebut dapat terbawa angin dalam jarak jauh dari lokasi gunung sehingga bandara yang tidak berada dekat dengan pusat erupsi tetap dapat terdampak. Anak Krakatau berada di Selat Sunda, tetapi sebaran abunya pada Minggu telah terpantau mencapai Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Kondisi atmosfer pada ketinggian berbeda juga menyebabkan arah penyebaran abu tidak sama. Atas pertimbangan tersebut, penghentian penerbangan dilakukan sebagai tindakan pencegahan. Keselamatan penumpang dan awak pesawat menjadi pertimbangan utama sebelum operasional kembali dibuka.
Dampak erupsi terhadap penerbangan tidak terbatas pada Bandara Soekarno-Hatta. Sejumlah bandara lain juga mengalami penutupan sementara atau penyesuaian operasional karena sebaran abu. Gangguan tersebut menimbulkan efek berantai terhadap jadwal pesawat yang seharusnya terbang menuju maupun meninggalkan Jakarta. Pesawat yang tertahan di bandara asal tidak dapat melanjutkan perjalanan, sementara rotasi armada dan jadwal awak juga ikut berubah. Akibatnya, pemulihan jadwal penerbangan tidak dapat dilakukan secara langsung meskipun kondisi ruang udara nantinya dinyatakan aman. Maskapai memerlukan waktu untuk menyusun kembali rotasi pesawat dan keberangkatan penumpang yang tertunda.
Pengelola Bandara Soekarno-Hatta memastikan pelayanan kepada penumpang terdampak tetap dilakukan selama penghentian operasional berlangsung. Penumpang diminta berkoordinasi dengan maskapai masing-masing untuk memperoleh kepastian mengenai reschedule, refund, maupun bentuk penanganan lainnya. Masyarakat yang belum berangkat menuju bandara juga dianjurkan memeriksa status penerbangan terlebih dahulu. Langkah tersebut diperlukan untuk menghindari penumpukan tambahan apabila penerbangan masih berstatus dibatalkan atau mengalami perubahan. Informasi jadwal dapat berubah mengikuti hasil evaluasi keselamatan penerbangan. Penumpang karena itu disarankan terus memperbarui informasi sebelum melakukan perjalanan.
Aktivitas Anak Krakatau sendiri masih menjadi perhatian setelah mengalami rangkaian erupsi sejak Jumat malam. Gunung tersebut berada pada Level III atau Siaga dengan rekomendasi agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas. Selain berdampak terhadap penerbangan, abu vulkanik juga dilaporkan mencapai sejumlah wilayah permukiman di Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Masyarakat yang mengalami paparan abu diminta menggunakan masker dan membatasi kegiatan di luar ruangan apabila kondisi cukup pekat. Perubahan arah angin dapat menyebabkan wilayah sebaran abu berubah dari waktu ke waktu. Pemantauan aktivitas gunung dan kondisi atmosfer terus dilakukan untuk mendukung pengambilan keputusan.
Antrean panjang di Bandara Soekarno-Hatta diperkirakan baru berangsur berkurang setelah terdapat kepastian mengenai operasional penerbangan dan penumpang memperoleh jadwal pengganti. Prioritas saat ini adalah memastikan proses perubahan jadwal berlangsung tertib sekaligus menjaga keselamatan seluruh pengguna jasa bandara. Penumpang yang terdampak diharapkan tetap memperhatikan pengumuman dari maskapai karena jadwal pengganti dapat berbeda sesuai ketersediaan kursi dan armada. Pembukaan kembali bandara juga tidak serta-merta membuat seluruh penerbangan kembali berjalan sesuai jadwal semula karena terdapat akumulasi penerbangan yang tertunda. Koordinasi antara pengelola bandara, maskapai, dan otoritas penerbangan terus dilakukan untuk mempercepat pemulihan. Normalisasi operasional akan dilakukan secara bertahap setelah kondisi ruang udara dinyatakan aman.






