Jakarta, 10 Mei 2026 – Gelombang kekerasan bernuansa xenofobia kembali terjadi di Afrika Selatan dan memicu kekhawatiran berbagai pihak internasional. Insiden yang menargetkan warga asing tersebut menambah daftar panjang ketegangan sosial yang selama beberapa tahun terakhir kerap muncul di sejumlah wilayah negara itu.
Aksi kekerasan dilaporkan terjadi di beberapa kawasan permukiman dan pusat perdagangan yang banyak dihuni imigran asal negara-negara Afrika lainnya. Sejumlah toko milik warga asing mengalami perusakan dan penjarahan, sementara beberapa korban dilaporkan mengalami luka akibat bentrokan yang terjadi di tengah kerusuhan.
Fenomena xenofobia di Afrika Selatan disebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tingginya angka pengangguran, kesenjangan ekonomi, hingga persaingan dalam sektor pekerjaan informal. Sebagian warga lokal menilai keberadaan pendatang mempersempit peluang ekonomi, meski banyak pihak menegaskan bahwa masalah sosial tersebut jauh lebih kompleks.
Pemerintah Afrika Selatan mendapat tekanan untuk segera mengambil langkah tegas dalam menghentikan kekerasan dan melindungi seluruh warga tanpa memandang asal negara. Aparat keamanan telah dikerahkan ke sejumlah titik rawan guna mencegah meluasnya kerusuhan dan menjaga stabilitas keamanan.
Organisasi hak asasi manusia turut mengecam aksi kekerasan tersebut dan meminta adanya penegakan hukum yang adil terhadap pelaku penyerangan. Mereka juga menyoroti pentingnya edukasi publik untuk mendorong toleransi serta mencegah berkembangnya sentimen kebencian terhadap kelompok pendatang.
Peristiwa ini kembali menjadi sorotan dunia karena Afrika Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di benua Afrika dan tujuan utama migrasi regional. Banyak pihak berharap pemerintah setempat mampu menemukan solusi jangka panjang agar konflik sosial berbasis xenofobia tidak terus berulang di masa mendatang.







