Jakarta, 1 September 2026 – Departemen Pertahanan Amerika Serikat memperluas penggunaan kecerdasan buatan (AI) dengan menghadirkan versi khusus ChatGPT dan Grok pada platform GenAI.mil. Kedua layanan tersebut kini tersedia bersama Google Gemini untuk digunakan oleh personel militer dan sipil di lingkungan pertahanan AS. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Pentagon untuk menyediakan beragam model AI yang dapat dipilih sesuai kebutuhan pekerjaan dan misi. Platform tersebut dirancang untuk memberikan akses terhadap teknologi AI generatif dalam lingkungan yang telah memiliki pengamanan khusus.
Versi ChatGPT yang digunakan Pentagon disebut ChatGPT Mil, sedangkan Grok hadir melalui versi Grok for Government. Keduanya dikembangkan untuk kebutuhan lingkungan pertahanan, bukan sekadar menggunakan layanan konsumen biasa. Pengguna dapat memanfaatkan kemampuan masing-masing model untuk pekerjaan yang membutuhkan pengolahan teks, pencarian informasi, analisis, maupun tugas administratif tertentu. Pentagon memilih pendekatan multi-model karena setiap sistem AI memiliki kemampuan teknis yang berbeda dan dapat lebih sesuai untuk jenis pekerjaan tertentu. Dengan menyediakan beberapa pilihan, personel pertahanan dapat menggunakan model yang dianggap paling tepat untuk kebutuhan spesifik mereka.
GenAI.mil sendiri merupakan platform AI perusahaan yang disiapkan untuk lingkungan Departemen Pertahanan dan digunakan oleh sekitar 3 juta personel sipil serta militer. OpenAI sebelumnya telah mengumumkan kehadiran ChatGPT pada platform tersebut sebagai versi khusus yang disetujui untuk menangani informasi yang tidak terklasifikasi. Sistem tersebut ditempatkan pada infrastruktur cloud pemerintah yang telah memperoleh otorisasi keamanan serta dilengkapi berbagai pengamanan untuk melindungi data sensitif. Pengembangan ini menunjukkan bahwa Pentagon tidak hanya mengejar kemampuan AI, tetapi juga memperhatikan aspek keamanan dalam penerapannya.
Kehadiran Grok juga memperluas pilihan teknologi AI yang dapat digunakan oleh lingkungan pertahanan AS. xAI sebelumnya telah mencapai kesepakatan dengan Pentagon untuk memungkinkan penggunaan Grok dalam sistem yang menangani informasi rahasia. Perkembangan terbaru kemudian membawa versi Grok for Government ke dalam portal GenAI.mil bersama ChatGPT dan Gemini. Strategi tersebut memperlihatkan keinginan Pentagon untuk tidak bergantung pada satu penyedia AI saja. Diversifikasi model dinilai dapat memberikan fleksibilitas sekaligus memungkinkan pemerintah memanfaatkan keunggulan teknologi dari sejumlah perusahaan AI.
Penggunaan AI dalam lingkungan pertahanan memiliki cakupan yang luas, mulai dari pekerjaan administratif hingga dukungan terhadap analisis dan kesiapan misi. Personel dapat memanfaatkan teknologi tersebut untuk membantu menyusun dan mengolah dokumen, menganalisis informasi, serta mempercepat sejumlah pekerjaan rutin. Namun, penerapan AI tetap memiliki batasan karena tidak semua jenis informasi dapat dimasukkan ke dalam sistem yang tersedia bagi pengguna. ChatGPT Mil yang berada di GenAI.mil secara khusus disiapkan untuk pekerjaan dengan informasi terkontrol tetapi tidak terklasifikasi. Pembatasan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan informasi pertahanan.
Langkah Pentagon juga terjadi di tengah perdebatan mengenai batas penggunaan AI dalam sektor pertahanan. Pemerintah AS sebelumnya menghadapi perselisihan dengan Anthropic terkait penggunaan model AI untuk kebutuhan militer, termasuk kekhawatiran mengenai pengawasan massal dan senjata otonom. Persoalan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam pertahanan tidak hanya menyangkut kemampuan teknologi, tetapi juga aspek keamanan, etika, dan kendali manusia. OpenAI sendiri menyatakan dalam kesepakatannya dengan Pentagon bahwa sistemnya tidak boleh digunakan untuk mengarahkan senjata otonom secara independen ketika aturan mengharuskan adanya kendali manusia.
Kebijakan multi-model yang diterapkan Pentagon juga menunjukkan semakin pentingnya AI dalam modernisasi pertahanan AS. Dengan menyediakan ChatGPT, Grok, dan Gemini dalam satu platform, personel dapat membandingkan kemampuan berbagai model tanpa harus bergantung pada satu teknologi. Pendekatan tersebut memungkinkan pemerintah memilih teknologi berdasarkan kebutuhan tertentu sekaligus menjaga fleksibilitas apabila kemampuan salah satu model berkembang lebih cepat. Bagi perusahaan AI, masuknya produk ke lingkungan pertahanan juga menjadi peluang untuk memperluas penggunaan teknologi mereka pada sektor pemerintahan.
Meski demikian, penggunaan AI untuk kepentingan pertahanan tetap membutuhkan pengawasan yang ketat. Keakuratan keluaran AI, perlindungan data, keamanan sistem, serta kejelasan tanggung jawab manusia menjadi faktor penting dalam penerapannya. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi hasil yang dihasilkan sistem tetap perlu diperiksa sebelum digunakan untuk keputusan penting. Pentagon pun menghadapi tantangan untuk memastikan teknologi yang semakin canggih tidak menciptakan risiko baru bagi keamanan nasional. Perkembangan GenAI.mil menjadi salah satu gambaran bagaimana pemerintah AS berusaha mengintegrasikan AI ke dalam sistem pertahanan sambil tetap mempertahankan batas penggunaan yang dianggap aman.
Dengan masuknya ChatGPT dan Grok ke GenAI.mil, Pentagon kini memiliki pilihan lebih luas dalam memanfaatkan teknologi AI generatif. Kehadiran berbagai model tersebut menandai semakin seriusnya upaya Amerika Serikat mengintegrasikan AI ke dalam aktivitas pertahanan dan pemerintahan. Namun, kemampuan teknologi tetap harus berjalan beriringan dengan keamanan informasi, pengawasan manusia, dan aturan penggunaan yang jelas. Perkembangan berikutnya akan menunjukkan sejauh mana AI dapat memberikan manfaat nyata bagi pekerjaan personel pertahanan tanpa meningkatkan risiko operasional maupun keamanan.





