Jakarta, 10 September 2026 – Malone Lam, pemuda asal Singapura berusia 22 tahun, mengaku bersalah atas keterlibatannya sebagai salah satu penggerak utama jaringan pencurian mata uang kripto yang berhasil membawa kabur Bitcoin bernilai lebih dari US$245 juta atau sekitar Rp4 triliun. Pengakuan bersalah disampaikan Lam di pengadilan federal Washington DC, Amerika Serikat, pada Selasa, 8 September 2026. Jaksa menggambarkan kasus tersebut sebagai salah satu pencurian cryptocurrency terbesar yang pernah ditangani di Amerika Serikat. Lam mengakui keterlibatannya dalam konspirasi kejahatan terorganisasi yang menggunakan manipulasi psikologis atau social engineering untuk mengambil alih aset digital milik korban. Salah satu serangan terbesar kelompok tersebut menghasilkan lebih dari 4.100 Bitcoin dari seorang warga Washington DC pada Agustus 2024. Setelah aset berhasil dikuasai, Bitcoin kemudian dipindahkan dan dicuci melalui berbagai transaksi sebelum sebagian hasilnya digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah para anggota jaringan.
Lam memiliki latar belakang yang tidak biasa untuk seseorang yang kemudian menjadi tokoh penting dalam jaringan kejahatan bernilai ratusan juta dolar. Ia datang ke Amerika Serikat dari Singapura dan diketahui berhenti sekolah sejak kelas delapan sebelum kemudian banyak menghabiskan waktu di dunia digital. Hubungannya dengan sejumlah anggota kelompok bermula dari perkenalan melalui permainan daring dan komunitas internet. Dari lingkungan tersebut terbentuk jaringan anak muda yang memiliki pengetahuan mengenai cryptocurrency, keamanan digital, serta teknik manipulasi terhadap pemilik aset. Jaksa menyatakan Lam memainkan beberapa peran dan kemudian menjadi salah satu pengorganisasi utama kelompok. Target mereka adalah orang-orang yang diketahui memiliki cryptocurrency dalam jumlah besar sehingga satu serangan yang berhasil dapat menghasilkan keuntungan sangat besar.
Metode yang digunakan tidak sepenuhnya bergantung pada pembobolan sistem komputer dengan teknik peretasan tradisional. Kelompok Lam justru mengandalkan social engineering dengan menyamar sebagai pihak yang dipercaya korban. Dalam serangan terhadap warga Washington DC pada Agustus 2024, dua anggota jaringan disebut berpura-pura menjadi perwakilan Google dan bursa cryptocurrency Gemini. Korban kemudian dimanipulasi agar memberikan informasi yang memungkinkan kelompok tersebut mendapatkan akses ke akun dan aset digitalnya. Para pelaku memperoleh akses ke Google Drive korban serta mendapatkan kode keamanan yang kemudian digunakan untuk mengambil alih cryptocurrency. Setelah proses tersebut berhasil, lebih dari 4.100 Bitcoin dapat dipindahkan dari penguasaan korban. Nilai aset tersebut pada saat kejadian diperkirakan mencapai lebih dari US$230 juta dan kemudian disebut lebih dari US$245 juta berdasarkan perhitungan dalam perkembangan perkara.
Keberhasilan mengambil aset bernilai sangat besar tersebut membuat kelompok Lam harus menghadapi persoalan berikutnya, yakni menyembunyikan asal-usul Bitcoin. Cryptocurrency memang dapat dipindahkan dengan cepat, tetapi transaksi pada jaringan blockchain meninggalkan catatan yang dapat dianalisis oleh penyelidik. Para anggota jaringan kemudian menggunakan berbagai teknik pencucian aset digital untuk memutus hubungan antara Bitcoin hasil kejahatan dan dompet yang mereka gunakan. Sebagian cryptocurrency ditukar, dipindahkan melalui banyak alamat, atau dikonversi menjadi bentuk aset lain sebelum akhirnya digunakan. Penyelidik kemudian merekonstruksi pergerakan dana tersebut untuk mengidentifikasi hubungan antara para anggota kelompok. Kompleksitas transaksi membuat kasus berkembang menjadi penyelidikan besar yang melibatkan penelusuran aset digital, transaksi keuangan, komunikasi elektronik, serta pembelian barang mewah.
Namun, upaya menyembunyikan jejak digital bertolak belakang dengan gaya hidup yang diperlihatkan kelompok tersebut setelah pencurian. Lam dan sejumlah rekannya menghabiskan uang dalam jumlah sangat besar untuk mobil sport, jam tangan mewah, rumah sewaan, perjalanan dengan jet pribadi, serta pesta di klub malam. Lam diketahui membeli lebih dari 30 kendaraan mewah, termasuk sejumlah Porsche, Lamborghini, dan Ferrari yang telah dimodifikasi. Nilai beberapa kendaraan mencapai jutaan dolar per unit. Ia juga membeli sebuah jam tangan bernilai sekitar US$2 juta dan menyewa rumah mewah di Miami. Pengeluaran yang sangat mencolok tersebut menjadi salah satu bagian yang kemudian didokumentasikan penyelidik untuk menunjukkan bagaimana hasil kejahatan digunakan setelah cryptocurrency berhasil dicuci.
Salah satu pengeluaran paling mencolok terjadi ketika Lam menghabiskan lebih dari US$569.000 hanya dalam satu malam di sebuah klub malam Los Angeles. Nilainya setara miliaran rupiah untuk satu malam hiburan dan menjadi gambaran gaya hidup yang dijalani setelah pencurian tersebut. Anggota kelompok lainnya juga membeli jam tangan bernilai ratusan ribu dolar, menyewa jet pribadi, mempekerjakan petugas keamanan, serta tinggal di rumah-rumah mewah di Miami dan Hamptons. Pengeluaran tersebut berlangsung ketika penyelidik federal mulai menelusuri pergerakan cryptocurrency yang dicuri. Alih-alih mempertahankan profil rendah, kelompok tersebut memperlihatkan peningkatan kekayaan yang sangat drastis dalam waktu singkat. Gaya hidup tersebut pada akhirnya ikut memberikan petunjuk kepada aparat mengenai hubungan antara sejumlah orang yang terlibat dalam jaringan.
Pesta besar itu hanya berlangsung sekitar satu bulan sebelum penegak hukum mulai melakukan penangkapan. Lam ditangkap agen FBI di salah satu rumah mewahnya di Miami pada September 2024. Seorang aparat penegak hukum yang sedang tidak bertugas bahkan diduga sempat memberikan informasi kepada Lam bahwa petugas sedang menuju lokasi untuk menangkapnya. Dalam rekaman percakapan dari tahanan yang kemudian masuk dalam dokumen perkara, Lam mengakui dirinya dan rekan-rekannya sebelumnya sering membicarakan kemungkinan suatu hari mereka tertangkap. Namun, skala penyelidikan yang akhirnya dilakukan aparat berada di luar perkiraan mereka. Penangkapan Lam menjadi awal dari pengungkapan jaringan yang jauh lebih besar dibandingkan hanya tiga orang yang terlibat dalam pencurian utama.
Penyelidikan federal kemudian mengidentifikasi sedikitnya 18 terdakwa yang memiliki berbagai peran dalam jaringan tersebut. Sebagian bertugas mencari dan mengidentifikasi calon korban, sementara anggota lainnya melakukan social engineering, mengambil alih akun, mengelola dompet cryptocurrency, atau membantu mencuci hasil kejahatan. Hingga pengakuan Lam pada September 2026, sebelas terdakwa telah menyatakan bersalah. Kasus tersebut juga menjadi penting karena penuntutan terhadap jaringan dilakukan menggunakan pendekatan hukum kejahatan terorganisasi federal yang mencakup konspirasi penipuan elektronik dan pencucian uang. Aparat berusaha menunjukkan bahwa pencurian bukan merupakan tindakan spontan beberapa pemuda, melainkan jaringan dengan pembagian peran dan pola operasi yang terstruktur. Penyelidikan terhadap anggota lain masih berlanjut bersamaan dengan proses hukum terhadap mereka yang telah mengaku bersalah.
Dalam sidang yang berlangsung sekitar dua setengah jam, Lam beberapa kali berbicara untuk memastikan dirinya memahami fakta dan tuduhan yang disampaikan jaksa. Ia akhirnya menyatakan bersalah atas dakwaan konspirasi kejahatan terorganisasi federal. Pengakuan tersebut menjadi perkembangan penting dalam penyelidikan karena Lam dianggap sebagai salah satu pengorganisasi jaringan. Hakim Colleen Kollar-Kotelly menerima pengakuan bersalah tersebut, tetapi belum langsung menentukan tanggal sidang pembacaan hukuman. Lam menghadapi ancaman hukuman maksimum 20 tahun penjara berdasarkan dakwaan yang diakuinya. Proses berikutnya akan mempertimbangkan peran Lam, besarnya kerugian, keterlibatannya dalam pencucian aset, serta berbagai faktor lain sebelum hukuman akhir ditentukan.
Kasus Malone Lam menunjukkan bahwa pencurian aset digital bernilai besar tidak selalu membutuhkan peretasan langsung terhadap jaringan blockchain. Titik terlemah justru dapat berada pada pemilik aset yang berhasil diyakinkan untuk memberikan kata sandi, kode autentikasi, atau informasi pemulihan akun kepada pihak yang menyamar sebagai perusahaan terpercaya. Dengan lebih dari 4.100 Bitcoin berpindah tangan dalam satu serangan, kesalahan memberikan informasi keamanan dapat menghasilkan kerugian miliaran rupiah hanya dalam waktu singkat. Pengakuan bersalah Lam kini membawa salah satu kasus pencurian cryptocurrency terbesar di Amerika Serikat semakin dekat menuju tahap penjatuhan hukuman. Sementara proses terhadap anggota jaringan lainnya terus berjalan, aparat juga masih berupaya melacak dan mengamankan aset hasil kejahatan yang tersisa. Perkara tersebut sekaligus menjadi peringatan bahwa perkembangan sistem keuangan digital harus diikuti perlindungan terhadap manipulasi manusia, karena teknologi keamanan yang kuat tetap dapat ditembus ketika pelaku berhasil mengambil alih kepercayaan pemilik aset.








