Jakarta, 25 Mei 2026 – Seorang pemilik wedding organizer (WO) bernama Marwah di kawasan Cakung, Jakarta Timur, diduga kabur setelah membawa uang milik pasangan pengantin baru senilai Rp 85 juta. Kasus ini menjadi sorotan setelah korban mengaku acara pernikahan mereka berantakan akibat vendor yang tidak muncul sesuai kesepakatan meski pembayaran telah dilakukan hampir lunas. Dugaan penipuan tersebut kemudian ramai dibicarakan di media sosial setelah keluarga korban membagikan kronologi kejadian dan memperlihatkan kondisi acara yang tidak berjalan sesuai rencana.
Korban menyebut telah menggunakan jasa WO tersebut sejak beberapa bulan sebelum hari pernikahan dan melakukan pembayaran bertahap hingga mencapai puluhan juta rupiah. Namun menjelang hari pelaksanaan, pihak WO mulai sulit dihubungi dan beberapa vendor disebut belum menerima pembayaran dari penyelenggara. Pada hari acara, sejumlah fasilitas penting seperti dekorasi, katering, dan perlengkapan pernikahan dilaporkan tidak tersedia sesuai perjanjian awal. Situasi itu membuat keluarga pengantin panik dan harus mencari solusi mendadak agar acara tetap bisa berlangsung meski dalam kondisi serba terbatas.
Setelah kejadian tersebut, pemilik WO disebut menghilang dan tidak dapat lagi dihubungi oleh korban maupun vendor lain yang juga mengaku belum menerima pembayaran. Beberapa pihak bahkan mendatangi alamat usaha WO di Cakung, namun lokasi disebut sudah kosong dan tidak ada aktivitas. Dugaan penipuan pun semakin menguat setelah muncul laporan dari korban lain yang mengaku mengalami kejadian serupa dengan nilai kerugian berbeda-beda. Kasus ini kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut.
Pengamat perlindungan konsumen menilai kasus seperti ini semakin sering terjadi di sektor jasa acara dan pernikahan karena tingginya transaksi tanpa pengawasan yang jelas. Mereka mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih vendor, termasuk memastikan legalitas usaha, rekam jejak layanan, serta sistem pembayaran yang aman dan bertahap. Selain itu, penggunaan kontrak kerja rinci dan bukti transaksi lengkap dinilai penting untuk mengurangi risiko kerugian apabila terjadi wanprestasi atau dugaan penipuan.
Sementara itu, pihak kepolisian disebut mulai menerima laporan dan mengumpulkan keterangan dari korban serta pihak-pihak terkait. Aparat juga akan menelusuri keberadaan pemilik WO dan memeriksa kemungkinan adanya korban lain dalam kasus tersebut. Peristiwa ini menjadi perhatian luas karena terjadi pada momen penting dalam kehidupan korban dan menyebabkan kerugian finansial maupun tekanan psikologis bagi keluarga pengantin. Banyak masyarakat berharap kasus tersebut segera diusut tuntas agar korban mendapatkan kejelasan dan kejadian serupa tidak kembali terulang.







